Generator Tag Kanonik

Berikutnya

Ketika konten yang sama dapat diakses melalui beberapa URL (parameter kueri, tanda slash di akhir URL, protokol HTTP versus HTTPS, arsip berhalaman), Google memerlukan satu URL yang ditetapkan sebagai versi kanonik. Masukkan URL yang diinginkan; generator akan menghasilkan tag <link rel="canonical"> dengan format yang benar untuk digunakan dalam <head>, serta header HTTP Link yang sesuai untuk sumber daya non-HTML seperti PDF.

Cara Membuat Tag Kanonik

  1. 1

    Tempelkan URL kanonik (yang lebih disarankan)

    URL absolut yang mencakup protokol dan host. Identifikasi fragmen (#section) diabaikan—Google menganggap URL dengan fragmen berbeda sebagai identik.

  2. 2

    Alat memvalidasi dan menormalisasi

    Konsistensi tanda slash di akhir, penggunaan huruf kecil pada nama host, serta punycode untuk domain IDN. Protokol yang hilang ditandai sebagai perbaikan.

  3. 3

    Tag telah dibuat

    `<link rel="canonical" href="https://example.com/page">`.

  4. 4

    Salin bentuk tag HTML atau header HTTP

    Gunakan tag HTML untuk halaman web; gunakan HTTP `Link: <url>; rel="canonical"` untuk PDF, gambar, dan respons API.

Apa sebenarnya fungsi tag kanonik?

Tag kanonik memberitahu mesin pencari: “Dari sekumpulan URL yang menampilkan konten ini, URL ini merupakan versi asli; semua sinyal peringkat harus dikonsolidasikan ke dalam satu halaman tersebut.” Tanpa tag ini, halaman-halaman duplikat akan membagi sinyal peringkat—tidak satu pun dari mereka mampu meraih peringkat sebaik satu halaman terpadu.

Bentuk HTML

<link rel="canonical" href="https://example.com/products/blue-shirt" />

Letakkan di <head>. Google dapat membacanya, sedangkan peramban tidak memperhatikannya.

Bentuk header HTTP Link

Digunakan untuk sumber daya non-HTML (PDF, gambar, feed XML):

Link: <https://example.com/whitepaper.pdf>; rel="canonical"

Kirim respons dengan kode 2xx apa pun. Konfigurasikan melalui server web atau CDN Anda.

Kesalahan Umum

  • URL relatif: href="/page" dapat digunakan, tetapi bersifat rentan. Gunakan URL absolut untuk menghindari ambiguitas.
  • Tidak sesuai protokol: informasi kanonik menyatakan http://, namun halaman tersebut disajikan melalui https://. Selalu pastikan protokol yang digunakan sesuai dengan protokol aktual.
  • Mengarah ke redirect: target kanonik harus menghasilkan respons 200. Rantai redirect melemahkan sinyal.
  • Memblokir URL kanonik dalam robots.txt: targetnya harus dapat dikrawle; jika tidak, Google tidak dapat memverifikasinya.
  • Sinyal yang bertentangan: tautan internal yang mengarah ke varian non-kanonik; perbarui agar sesuai.
  • noindex pada target kanonik: saling eksklusif — pilih salah satunya.
  • Berbagai kanonik yang digunakan pada halaman duplikat: Google hanya menggunakan satu kanonik dan mengabaikan yang lainnya. Aturkan kanonik yang sama untuk semua halaman duplikat.

Kasus Khusus

  • Arsip berhalaman: setiap halaman (?page=2) sebaiknya menjadi kanonik bagi dirinya sendiri (self-canonical), bukan mengarah ke halaman 1. Dulu panduannya berbeda; Google secara eksplisit menghentikan rel=prev/next dan kini menganggap self-canonical sebagai standar.
  • Navigasi berfaset: tampilan terfilter dari daftar yang sama umumnya dikanonikkan kembali ke daftar tanpa filter, kecuali filter tersebut secara signifikan mengubah isi konten.
  • URL terpisah untuk perangkat seluler (m.example.com): halaman versi seluler dikanonikkan ke versi desktop; versi desktop menambahkan rel=alternate sebagai referensi balik.
  • Halaman AMP: AMP dikanonikkan ke versi non-AMP; versi non-AMP menambahkan rel=amphtml yang menunjuk ke versi AMP.

Pertanyaan yang Sering Diajukan

Disarankan: referensi diri pada dokumen kanonik (halaman yang mengacu pada dirinya sendiri) dapat melindungi sistem dari penggunaan parameter session-ID, kode UTM, serta duplikasi yang tidak disengaja. Ini merupakan praktik terbaik dalam SEO, bukan persyaratan wajib.

Ya. Jika mitra sindikasi menerbitkan kembali konten Anda, mereka dapat menetapkan URL kanoniknya pada URL asli Anda. Google menghargai referensi kanonik lintas domain jika kontennya benar-benar sesuai.

HTTPS selalu harus digunakan untuk setiap halaman yang disajikan melalui protokol tersebut. Penggunaan campuran protokol dapat menghasilkan sinyal yang bertentangan dan berpotensi membuat Google memilih salah satu versi secara acak.

Canonical harus menargetkan URL akhir setelah redirect, bukan URL perantara. Rantai URL dapat melemahkan kekuatan sinyal tersebut—Google mungkin memperlakukan tanda arah menuju status 302 sebagai petunjuk saja, bukan sebagai referensi yang otoritatif.

Alat Terkait